Terus Baca Buku, Tetap #dirumahaja

2 komentar

poto/koleksi_pribadi
Beberapa hari belakangan ini, minat baca saya timbul. Awalnya hanya gemar menonton film, karena dengan durasi satu atau dua jam, bisa langsung mengetahui isi dan terutama akhir dari sebuah cerita. Ditambah lagi ada gerak dan suara yang membuat saya cepat memahaminya.

Membaca buku terkesan membosankan bagi saya, harus monoton menatap sederet huruf yang tidak ada gambarnya. Tapi itu dulu, lalu saat ini menyadari bahwa pentingnya membaca sebagai sarana memperkaya kosa kata.

Kira-kira lima enam yang lalu, saya sempat meminjam buku dari seorang teman. Pada waktu itu niatnya untuk dibaca. Tapi sampai sekarang, malah jadi penghias lemari saja. Baru membuka halaman pertama, sudah jenuh sekali rasanya.

Karena sekarang sedang semangat untuk membaca, saya teringat dengan buku tersebut. Mengeluarkannya dari tempat persembunyian, walaupun pernah dijadikan film. Tapi ada rasa penasaran, bagaimana cerita ini dalam versi buku.

Sang tokoh utama yang sangat suka dengan perahu kertasnya, kerumitan dalam kisah cinta. Perjalanan karir dan sebagainya. Saya mulai berpikir tentang awal cerita tersebut, konflik dan cara penyelesaiannya, kebahagian yang ada.

Masih dalam proses membacanya, saya belum tahu akhir dari kisah tersebut. Sangat membuat penasaran, seperti apa nanti jadinya sang tokoh utama tersebut. Inginnya bahagia dan hidup panjang umur, seperti dongeng pada umunya.

Salah satu alasan saya tidak suka baca buku, karena jumlah halaman yang banyak. Ceritanya tidak terlalu panjang, dan hanya beberapa lembar saja, itu yang selalu diharapkan, juga ada banyak gambar pendukung.

Kerap kali saya mengkritik buku yang memiliki halaman tebal. Tetapi bukan berarti ngejulid, “penasaran sama ceritanya, tapi halamannya banyak kali”. Perasaan itu langsung muncul dan membuat jadi malas membaca.

poto/pixabay

Meningkatkan Rasa Penasaran

Karena minat membaca saya mulai tumbuh, saat ini sedang mencari-cari buku. Khususnya, paling suka tentang cerita fiksi, rasanya seperti ikut berimajinasi. Beberapa hari yang lalu, ada yang menjual buku bekas dengan harga terjangkau.

Juga ada teman sekomunitas yang sedang merilis buku terbarunya. Ia menjual dengan Pre-Order saat ini, masih dengan tema fiksi, makanya saya sangat tertarik. Namun, untuk buku bekas harus cermat dalam memilihnya. Terutama keasliannya, penerbit, dan tahun perilisannya.

Teliti dan Berhati-hati

Untuk berbagai hal diperlukan untuk meninmbang-nimbang terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan. Seperti membeli buku tadi, walapun harganya sangat murah, akan tetapi tetap harus teliti sebelum membeli.

Tidak mudah tergiur, hingga akhirnya mengabaikan keorisinilan dari sebuah karya. Salah satu cara menghormati seorang penulis adalah dengan membeli yang original, bukan bajakan.

Dengan bersikap dan berpikir kritis, kita tidak akan mudah tergiur dengan iming-iming harga murah, tampilan bagus, dan lain sebagainya. Jika langsung percaya dengan bujuk rayu, maka bisa-bisa membeli yang hasil salinan, bukan buatan asli dari sang penulis.

Alhamdulillah, baik buku dari meminjam teman, ataupun bekas. Sudah terbukti keorisinilannya, Insya Allah akan nyaman membaca. Karena masih Pre-Order, saya harus bersabar menunggu hingga selesai dicetak dan kirim.

Berhubung teman saya sudah pindah rumah, bukunya belum bisa dikembalikan, maafkeun, mungkin nanti kalo pandemi sudah berakhir, dan bisa bertemu. Untuk sekarang lebih seru menghabiskan waktu dengan segelas kopi atau coklat panas, sambil membaca.

Teman-teman semuanya, boleh bantu rekomendasikan buku yang asyik, genrenya boleh apa saja, bebas. Dulu saya khilaf karena malas, sekarang harus memperbanyak bacaan untuk menambah wawasan dan kosa kata.

Related Posts

2 komentar

  1. Ya ampun jadi inget, bulan kemarin dan september ini saya juga blm baca buku. Bacanya website2 aja sama dengerin podcast. Meski sama2 menjadi sumber pengetahuan, membaca buku itu memang memberikan insight dan perasaan yang berbeda yaa.

    Saya pecinta buku dee juga mbak, tapi terakhir baca ya yg judulnya Bulan kalau nggak salah. Sya masih suka bingung sama alur cerita dan keterkaitan satu cerita dengan yang lainnya. Mungkin memang kudu dibaca berulang ulang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mba... bacanya pelan-pelan aja, sambil minum kopi.
      Biar alurnya lebih terasa..

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email